Aeoquorea victoria
si ubur-ubur hijau yang bermanfaat
(Nirmala Sari Nasution)
Aeoquorea victoria atau ubur-ubur hijau merupakan salah satu spesies dari phylum Coelenterata yang akhir-akhir ini populer dalam bidang biologi dan kedokteran. Dari hasil penelitian diketahui ubur-ubur ini mengandung protein hijau bercahaya atau Green Fluorescent Protein (GFP). Sebenarnya ubur-ubur ini tidak berwarna (transparan), tetapi karena mengandung protein, ubur-ubur ini akan menyala berwarna hijau saat diterangi cahaya ultraviolet. Hal ini disebut fluorescens, artinya memancarkan cahaya saat disinari. Penemuan GFP yang ada pada ubur-ubur hijau ini merupakan penemuan yang fantastis dalam dunia kedokteran. Berbagai proses dalam tubuh yang tadinya tidak bisa dilihat, seperti perkembang-an sel-sel syaraf dalam otak, penyebaran sel penyakit kanker, kerusakan sel syaraf pada penderita Alzheimer kini bisa diamati. Caranya dengan menempelkan GFP pada protein-protein lain yang ingin diteliti. Protein-protein tersebut akan terlihat ketika disinari oleh cahaya UV dan peralatan kedokteran.
Ubur-ubur hijau hidup di Pantai barat Lautan Pasifik. Ubur-ubur ini termasuk jenis hydromedusae. Ciri-cirinya antara lain transparan dan berbentuk payung atau bel. Ubur-ubur hijau dewasa berdiameter sekitar 8 -25 cm. Hidup sekitar 6 bulan. Jika merasa terganggu, lebih dari seratus organ penghasil cahaya di bagian luar payung/belnya akan memancarkan cahaya biru kehijauan.
Peneliti yang pertama sekali menemukan protein GFP pada ubur-ubur ini adalah Oshamu Shimura dari Jepang, pada tahun 1962. Selanjutnya penelitian ini dikembangkan di bidang kedokteran oleh Martin Chalfie dan Roger Tsien dari Amerika Serikat. Pada tahun 2008 kemaren beliau bertiga mendapat penghargaan Nobel Kimia. Hayoooo…siapa yang mau nerusin profesi bapak-bapak tersebut jadi peneliti?
Aeoquorea victoria (ubur-ubur hijau) yang ber-
manfaat